Pakar Tata Kota UI: Jika Reklamasi Ancol Dibenarkan Jusru Akan Muncul Masalah Lingkungan

JAKARTA – Pakar Tata Kota dari Universitas Indonesia Nirwono Joga mengatakan proyek Reklamasi Ancol bakal memunculkan masalah lingkungan sehingga perlu kajian tersendiri. Sebab, Reklamasi Ancol menggunakan sedimentasi hasil kerukan sungai dan waduk.

 

“Reklamasi dengan menampung sedimentasi kerukan sungai dan waduk di Ancol jika dibenarkan justru akan memunculkan masalah lingkungan yang tetap memerlukan kajian tersendiri,” kata Nirwono dikutip dari AKURAT.CO, Sabtu (18/7/2020).

 

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan bahwa perluasan lahan Ancol berbeda dengan Reklamasi yang digagas di era Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Penimbunan laut di Ancol diklaim sebagai langkah penanganan banjir karena daratan buatan itu dari tanah kerukan sungai dan waduk.

 

Pengerukan sudah berjalan sejak 2009 melalui program Jakarta Emergency Dredging Initiative (JEDI) dan Jakarta Urgent Flood Mitigation Project (JUFMP).

 

Menurut Nirwono, pengentasan banjir Ibu Kota tak semata-semata hanya mereklamasi kawasan Ancol. Proyek itu bisa dihentikan kalau Anies Baswedan serius melakukan perbaikan pada kerusakan di aliran sungai.

 

Sungai dan waduk di Jakarta yang mengalami pendangkalan adalah tanda banyaknya erosi di badan-badan air yang menandakan adanya kerusakan lingkungan dari hulu hingga hilir.

 

“Jadi tugas gubernur adalah memperbaiki lingkungan badan air. Jika hal itu dilakukan justru proses Reklamasi akan berhenti dengan sendirinya karena pasokan sedimentasinya akan berkurang atau hilang seiring dengan perbaikan lingkungan badan air tersebut,” tuturnya.

 

Memperbaiki badan air serta waduk yang mengalami pendangkalan yang disebut-sebut sebagai biang kerok banjir Jakarta bisa dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya menaturalisasi sungai sebagaimana janji kampanye Anies pada Pilkada DKI 2017 lalu.

 

Kemudian membersihkan bantaran sungai dari pemukiman penduduk serta merehabilitasi saluran air kota dan memperluas Ruang Terbuka Hijau di Jakarta. Cara-cara seperti ini kata Nirwono bakal mengurangi risiko erosi badan air yang berimbas pada penumpukan sedimentasi.

 

“Ini yang tidak banyak dilakukan Gubernur DKI, artinya tidak banyak yang dilakukan dalam mengendalikan banjir. Jika hal tersebut dilakukan maka ke depan justru proses sedimentasi di badan air seperti di sungai, dan di saluran air dapat dikurangi secara signifikan,” tukasnya.

Sumber

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.