Pakar Mikrobiologi UGM: Virus Corona Tak Bisa Menembus Plastik Jenazah

Penolakan terhadap jenazah corona terjadi di beberapa wilayah di Indonesia. Terakhir, viral video mengenai penolakan jenazah perawat yang menangani pasien virus corona di Semarang, Jawa Tengah.

Kejadian tersebut menggambarkan bahwa masih banyak warga yang panik dan tidak memiliki pemahaman baik mengenai penyebaran virus corona, khususnya dari jenazah.

Pakar Mikrobiologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), mengatakan pemakaman jenazah pasien COVID-19 tidak akan berbahaya jika dilakukan sesuai protokol. Memang, virus akan bertahan di tubuh pasien yang telah meninggal beberapa saat, namun dia tidak akan bertahan lama dan akan rusak atau mati dengan sendirinya.

“Karena ketika si host atau inang sudah mati, maka tidak ada lagi metabolisme selular yang terjadi,” ujar Abdul Rahman Siregar ketika dihubungi, Sabtu (4/4). “Termasuk replikasi materi genetik yang selama ini dimanfaatkan oleh virus untuk menggandakan materi genetiknya sebelum virus tersebut merakit partikel-partikel virus yang baru,” lanjutnya.

Abdul Rahman mengatakan, belum diketahui pasti berapa lama virus SARS-CoV-2 yang berada di balik pandemi COVID-19 ini bisa bertahan di tubuh jenazah manusia. Tapi sebuah studi ada yang menyebutkan virus HIV dapat bertahan di jenazah manusia 6 hari setelah pasien meninggal dunia. Studi lain menemukan virus ebola dapat bertahan selama 7 hari di tubuh monyet yang telah mati.Namun dengan dijalankannya prosesi pemakaman sesuai protokol yang ada, masyarakat tidak perlu khawatir jenazah pasien COVID-19 akan menyebarkan virus ke warga setempat.

“Karena jenazah akan dibungkus dengan kantong plastik sebelum dipakaikan kain kafan bagi yang muslim, sehingga virus tidak akan keluar atau release dan menginfeksi orang lain,” tegasnya.

Tidak Akan Mencemari Air Tanah

Ketakutan yang timbul di tengah masyarakat adalah tercemarnya air tanah oleh virus dari jenazah pasien COVID-19. Abdul Rahman lagi-lagi menegaskan, hal itu tidak akan terjadi. Selain karena virus akan segera rusak ketika inangnya sudah mati, proses pemakaman yang dilakukan sesuai protokol juga tidak memungkinkan untuk virus menyebar dan mencemari lingkungan sekitarnya.

Dia menjelaskan, sebelum dimakamkan jenazah akan dibekukan dulu di dalam mesin freezer. Sebelum dikafani, jenazah juga dibungkus rapat lebih dulu dengan kantung plastik, sehingga tidak memungkinkan virus untuk keluar dan mencemari air tanah.

Apalagi ketika dimakamkan jenazah tetap ditempatkan di dalam peti dan semprot dengan disinfektan untuk memastikan tidak ada partikel virus yang tersisa di permukaan peti.

“Dan plastik sendiri tidak mudah terurai, butuh waktu puluhan bahkan ratusan tahun sehingga tidak memungkinkan virus untuk keluar,” ujar Abdul Rahman.

Yang berbahaya justru ketika jenazah tidak segera dimakamkan, sebab petugas yang menangani berisiko lebih besar untuk tertular. [kumparan]

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.