Kerusakan Mata Novel, Penanganan Medis Harus Disorot

JAKARTA – Hingga saat ini kasus Novel Baswedan masih jadi perbincangan hangat.

 

Belum lama ini, tim kuasa hukum Rahmat Kadir Mahulette dan Ronny Bugis ungkap soal kerusakan mata yang dialami Novel Baswedan.

 

Kuasa hukum tersebut meyakini kerusakan mata yang dialami penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan bukan sepenuhnya perbuatan kedua terdakwa.

 

“Telah terungkap fakta hukum kerusakan mata saksi korban Novel Baswedan bukan merupakan akibat langsung dari perbuatan penyiraman yang dilakukan oleh terdakwa,” ujar tim kuasa hukum di ruang sidang Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara, Senin (15/6/2020).

 

Menurut tim kuasa hukum dari Divisi Hukum Polri yang diketuai Rudy Heriyanto mengungkapkan kerusakan mata yang diderita Novel itu akibat penanganan medis yang tidak benar.

 

Selain itu, kata mereka, hal itu juga disebabkan ketidaksabaran Novel selaku korban terhadap tindakan medis.

 

Novel sempat beberapa kali pindah penanganan medis hingga akhirnya dirawat di Singapura National Eye Centre.

 

“Melainkan diakibatkan oleh sebab lain, yaitu penanganan yang tidak benar atau tidak sesuai, di mana sebab lain itu didorong oleh sikap saksi korban sendiri yang tidak menunjukkan kooperatif dan sabar atas tindakan medis yang dilakukan oleh dokter-dokter di rumah sakit,” kata dia.

 

Pada 26 Mei 2020, Dokter Mata dari Rumah Sakit Mata JEC, Johan Arif Martua Maruarar Hutauruk, mengungkapkan tim dokter yang sempat merawat Novel, cairan H2SO4 atau asam sulfat yang terkena wajah Novel Baswedan telah ditangani secara tepat dan berhasil dinetralisir.

 

“Dokter Johan Hutauruk yang melakukan perawatan terhadap korban di mana saksi-saksi menyatakan penanganan telah dilakukan secara tepat dan tingkat asam sulfat dapat dinetralisir juga secara jelas,” cetusnya.

 

Dia menambahkan kerusakan mata yang dialami Novel, selaku saksi korban ini sesungguhnya bukan akibat langsung dari tindakan penyelamatan yang dilakukan, melainkan kesalahan penanganan yang dilakukan oleh pihak tertentu.

 

Untuk diketahui, Ronny Bugis dan Rahmat Kadir Mahulete, dua terdakwa penyerangan penyidik KPK, Novel Baswedan dituntut pidana penjara selama 1 tahun.

 

Mereka masing-masing melakukan tindak pidana penganiayaan dengan rencana lebih dahulu yang mengakibatkan luka-luka berat seperti yang diatur dan diancam pidana dalam Pasal 353 ayat (2) KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, sesuai dakwaan subsider Jaksa Penuntut Umum.

Sumber

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.